Ex-Lab Inovasi

Akhir-akhir ini jadi sering keinget sama OmahTI gara-gara ngejer nyiapin sertifikat kepengurusan (yang niatnya jadi kado wisuda, tapi gagal gara-gara tas kadonya kekecilan). Terus beberapa hari lalu nyempetin main ke Milan buat lihat gimana bentuk Ex-Lab Inovasi itu sekarang.

Dan ya karena emang sudah pindahan jadi bisa dibayangin: papan namanya sudah dicopot, dalemnya sudah berantakan berdebu, bener-bener sudah gak kerasa hidup. Kerasa beda banget sama terakhir kali aku ke sana.

Terus yang jadi renungan adalah nama "Lab Inovasi" itu. Dulu pas masa kepengurusan aku ngerasa inovasi kita itu kurang, kita ndak pernah (atau sangat jarang) mencoba teknologi-teknologi baru untuk diimplementasikan. Sempet sebel dan sedih juga pas itu.

Tapi setelah lulus, dan ngelihat beberapa temen yang udah kerja diperusahaan IT ataupun non-IT. Aku ngerasa dulu itu rupanya kita sudah inovasi banget, kita ikut lomba membuat ide yang belum ada sebelumnya, berkreasi untuk menciptakan solusi permasalahan-permasalahan yang ada. Beda banget dengan di dunia kerja, kita memang tetap ngoding dan "membuat sesuatu" tapi daripada dibilang inovasi, aku lebih ngelihat unsur bisnis di sana. Kita bekerja untuk dibayar orang lain. Mengerjakan proyek yang yah itu-itu saja. Tersitanya waktu dan tenaga cuma terbayar dengan kepuasan materi.

Jadi rindu dengan masa-masa kita berkarya tanpa memikirkan uang yang akan kita peroleh.
Apa kabar lab Inovasi yang sekarang?

udah kayak ditinggal lama banget

Haha, jadi inget momen-momen seru dulu dari kantin OTI

walau gak bisa main, tapi masih inget ributnya sekre kalau udah pada main

dulu aku loh yang bikin logo OmahTI di pojok sana

Bogor [3]: Karena apa kau mencintainya

Ada sela-sela waktu kosong pas kegiatan PIMNAS di sana, beberapa kali diisi lihat-lihat IPB, ke bazar PIMNAS, atau duduk-duduk ngemil, atau ngobrol bercanda biar semakin kenal.

Suatu waktu pas kita ngobrol rame-rame antara kaum Adam. Dan entah lupa gimana awalnya tiba-tiba ada yang memulai topik untuk ngomongin seorang cewek. Ceritanya, ada seorang cewek yang emang lagi jadi bahan obrolan "favorit" di antara para cowok pas di PIMNAS sana. Awalnya aku ngira ini cuma kayak "rahasia umum", yang masing-masing saling tahu kalau cewek itu menarik tapi ndak akan ada yang berani mengobrolkannya, sampai akhirnya aku dapet kesempatan duduk di dalam ruang obrolan itu.

-ini sedikit fakta kecil, kadang cowok juga bisa nge-gosip-

Obrolan sudah mulai panjang mbahas cewek itu, tapi yang menarik dimulai ketika muncul pertanyaan:

A : "Eh menurutmu apa ya yang bikin dia menarik ya?"

B : "Hmm.. apa ya, manis sih senyumnya"
C : "Mirip artis itu bukan sih"
D : "Suaranya eh yang bening gitu"
E : "Ya emang udah cantik sih orangnya"

Sebenernya lumayan panjang dan juga saling lempar percakapannya. Tapi yang menarik yang jadi pikiranku pas itu,

"Apa tidak ada dari kalian yang coba perhatikan perangainya?"

oke, toh mereka juga tidak terlalu lama mengenalnya, jadi wajar sih. Dan mungkin sebenarnya pas pertama aku kenal cewek itu juga pikiranku tidak jauh beda dari mereka.

Menurutku, untuk kasus obrolan ini terjadi memang karna adanya kombinasi antara kita para cowok yang terlalu liar pandangannya dan para cewek yang terlalu mudah menebar dan menunjukkan kecantikannya. Tidak hanya salah satunya, dan kita tidak bisa saling menyalahkan kaumnya.

Tapi sebenernya sedih juga kalau ngeliat ada cewek yang diobrolin cowok-cowok karena kecantikannya. Kenapa? karena apakah nantinya itu yang menjadi alasan bagi kalian para cowok untuk mencintainya? dan apakah itu yang jadi harapan nantinya mereka akan mencintai kalian para cewek? Bukankah ada yang lebih mulia untuk dijadikan bahan penilaian?

Dan semoga pandangan kita para cowok bisa semakin terjaga, jangan sampai nantinya kecantikannyalah yang menjadi pertimbangan akhir ketika memilihnya. Dan aku berharap, semoga adekku, atau anakku (nanti) yang cewek atau semua kerabat cewek di dekatku, tidak dinilai oleh cowok-cowok di sekitarnya karna kecantikannya, karena rupa atau parasnya. Semoga kita dan mereka bisa dikuatkan untuk terus menjaga diri.

Bogor [2] : Cendekiawan


Hari pertama di Bogor untuk membantu mempersiapkan keperluan kontingen PIMNAS UGM, dimulai dengan masalah konsumsi. Sempet kasihan lihat pak-pak ibu-ibu yang baru aja dateng gak ngerti apa-apa dan tiba-tiba harus mencari konsumsi di kota yang baru aja dikunjungi. Tapi ya gitulah dunia kerja.

Setelah muter-muter cari tempat dan melewati macet yang agak ndak karuan akhirnya berkat bantuan Pak Henri sebagai supir kita di sana dapatlah warung makan ayam kampung yang menyediakan menu yang cocok untuk semua kalangan.

Semua kalangan? iya kalau diinget salah satu bahasan paling sering selama kerja -parttime- di kantor ini adalah ke-wangun-an (kelayakan) sebuah makanan untuk disajikan ke kalangan tertentu. Karena percaya atau ndak, aku sering banget denger cerita ibu-ibu yang "ditegur" hanya karena pesenan makanan kurang wangun walaupun kalau menurutku makanan seharga 25-30ribu perkotak itu sudah sangat wangun.

Dan hal itu kejadian lagi kemarin pas di Bogor, datang lagi teguran karna makanan yang disajikan malam sebelumnya kurang "sip" atau layak untuk kalangan tersebut. Teguran ini datang langsung dari salah satu dari mereka.

Sebenernya ibu-ibu yang ngurusin konsumsi mungkin ngerasa biasa aja dengan teguran tersebut. Karena selain udah biasa mungkin beliau juga tahu emang itu pekerjaannya. Tapi yang kadang bikin sedih lebih ke siapa penegurnya, iya sesuai judul post ini, kalangan yang aku maksud adalah para kaum cendekiawan, para dosen.

Kadang mungkin aku nya yang telalu naif atau bagaimana, karna kukira jadi dosen atau guru itu penuh pengabdian, yang tidak terlalu mempermasalahkan materi yang diperoleh, apalagi sekedar masalah makanan.

Bogor [1]: Institut Pertanian Bogor

ini Institut Pertanian Bogor? Aku kira Kebun Raya Bogor, kata seseorang
Alhamdulillah dapat kesempatan lagi mampir ke kampus lain di Indonesia, Institut Pertanian Bogor :) Kalau denger pertama tentang IPB yang aku inget adalah 2, pertama adalah video tentang Jejak-Jejak Mimpi (pake vimeo, kalau di Yutube diblokir soundnya), dan yang kedua adalah tim AgriCoder (tim Competitive Programming IPB yang sering banget ketemu di tempat lomba, dan terus tinggi-tinggian peringkat)

Setelah sampai sana, komentarnya jadi nambah "sejuk","rindang", dan "agro" banget. Suasana budaya agro di sana tidak hanya kerasa di IPB tapi banyak tempat di Bogor. Dan agak cocok dengan cerita bagaimana kita dari kontingen PIMNAS UGM mempersiapkan banyak hal di sana, insyaAllah ada banyak cerita dari sana. Sekarang rehat dulu :)

Experience is the best teacher

Salah satu kata-kata mutiara di buku tulis yang masih keinget sampai sekarang.

Beberapa tahun lalu di sebuah acara di SMA, dengan pemateri saat itu Mas Dalu Kirom, sebuah pertanyaan terlontar, "Mas, bagaimanakah cara kita menjadi seorang yang memiliki jiwa pemimpin?"

"Turun ke lapangan, nggak ada pemimpin yang bisa terlahir hanya semalam, nggak ada teori yang bisa njadiin kita pemimpin dalam sekejap, semua itu dari pengalaman"

Beberapa hari lalu di sebuah acara di kampus, dengan pemateri saat itu Bu Wiwit Wijayanti, sebuah pertanyaan terlontar, "Bu, bagaimana cara biar kita menjadi public speaker yang baik, yang ndak punya kebiasaan bilang eeh... eeh... atau sejenisnya?"

"Jam terbang dan latihan, itu kembali ke jam terbang. Semakin sering kita bicara di depan umum, nanti pelan-pelan kita bisa semakin memperbaiki dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita"

Jadi sebenernya sulit juga kalau ditanya, Kapan kamu bisa mulai memimpin? atau kapan kamu bisa menjadi public speaker yang baik? itu semua tergantung pengalaman, dan kita harus tetap belajar untuk memperbaiki diri

Karena memang nyatanya ada beberapa kemampuan yang perlu terus diasah seumur hidup untuk memperoleh hasil yang terus membaik

*semua kutipan hanya sebatas ingatan, kurang lebih seperti itu kata-katanya

Kereta Ekonomi

Kalau ditanya berapa kali naik kereta ekonomi?
Empat kali

Naik kereta ekonomi pertama kali pas dapet tawaran ngajar di Purwokerto dan posisiku lagi liburan di Surabaya. Naik kereta lama buanget, terus dapet posisi bangku yang ngadep belakang jadinya jalan mundur dan akhirnya agak pusing. Diapit sama penumpang sekeluarga yang seru ngobrol dan akunya jadi krik-krik sendiri karna selain gak diajakin ngobrol, akunya juga bingung mau nanya-nanya apa. bener-bener kesan pertama yang buruk rasanya tentang kereta ekonomi.

Naik kereta ekonomi kedua dari Purwokerto ke Surabaya, tapi bukan di saat yang sama dengan yang pertama, ini ceritanya nganterin mas Basith dan mas Shofwan main ke Surabaya. Walau ceritanya nganterin tapi posisi dudukku jauh dari mereka. Kali ini duduk dibangku yang diisi sama orang-orang lebih diem dari pertama, jadi gak terlalu kerasa aneh, tapi kali ini yang kerasa adalah kaki yang gak bisa lurus -- dan jadinya capek buanget, rasanya kalau pas mbak-mbak yang di depanku lagi ke WC itu kayak "waaah, alhamdulillah akhirnya bisa ngelurusin kaki juga"

Naik kereta ekonomi yang ketiga dari Jogja ke Kediri, dapat tawaran ngajar terus naik kereta tengah malem. Yang ini lebih tenang, karena malem jadinya gerbongnya banyak sepinya, gak ada temen sebangku atau temen sehadepan bangku, bener-bener lebih kerasa nyamannya bisa sambil baca buku dan tidur-tiduran, walau sempet takut juga ntar kebablasan stasiunnya. Sayangnya pengalaman buruk dateng setelah sampai di Stasiun Kediri. Karena jadwalnya ndak ada yang pas, akhirnya sampai di Kediri sekitar jam 1 malem, dan terlantar karna dari pihak sekolah ndak ada yang bisa jemput sampai sekitar jam setengah 3 malem .___. tiduran, di lantai, teras luar stasiun, tengah malem.

Yang terakhir barusan aja dari pagi-sore tadi. Dan seperti kemarau setahun diguyur hujan semalam, udah susah nginget cerita-cerita buruk kereta ekonomi. Terus jadi inget kata-kata yang aku lupa dapet dari mana, "Ketika seseorang memberi nasihat, sebenarnya mereka sedang bercerita tentang pengalaman mereka" Ya.. walau agak beda maknanya, tapi rasanya sama, karna sampai tadi pagi, rasanya kalau denger dan ditanya tentang kereta ekonomi masih negatif aja kesannya, sampai dapat pengalaman baru seharian ini :)

Bismillah...

Memang, Tak Sekadar Percakapan

Dan diakhir malam ini, juga dapat renungan dari seseorang. Agak beda, tapi masih setopik...
Sebelumnya, sebagai pembicara kita memang harus untuk hati-hati menata niat kita untuk berbicara. Namun.. bagaimana sikap kita jika sebagai pendengar?

Ya kita juga harus lebih terbuka terhadap segala niat si pembicara, bukan tentang niat buruknya, toh jangan juga menduga niatan buruk seseorang, tapi sebenernya lebih ke niat "yang lain" nya.

Bagaimana kalau seandainya si pengajak bicara ini, tidak mempermasalah kan konten pembicaraan? tapi di dalam hatinya dia cuma ingin berjumpa dengan si pendengar, cuma ingin mengobrol dengan si pendengar, cuma ingin menjalin silatuhrahmi, ingin melepas kepenatannya, dari tekanan yang dia alami, dan hal-hal lain. Masihkah kita enggan untuk mendengarkan?

Sahabat