Jawabnya ada di ujung langit

"Islam itu sudah saklek (tetap, sempurna), sedangkan ilmu pengetahuan itu masih berkembang. Jadi misal ada ilmu pengetahuan yang dirasa tidak cocok dengan ajaran Islam, maka yang salah bisa jadi pemahaman kita terhadap ilmu agama kita, atau ilmu pengetahuan kita yang masih belum sampai di situ"

Kira-kira seperti itu kata seseorang yang saya lupa siapa, ketika ditanya yang saya lupa apa, di Masjid Manarul Ilmi ITS awal kuliah dulu.

Dan kepercayaan itu yang saya anut, yang saya jadikan pegangan ketika hati terbolak balik oleh logika dan ilmu pengetahuan yang terbatas ini. Sebaiknya kita percaya, Sami'na wa atho'na, ada sebuah jawaban di sana yang belum kita tahu.

Jika sebuah ibadah itu rumit, maka ada hikmah dibaliknya maka bersabarlah atas ibadah itu. Jika sebuah ibadah itu sederhana, maka ada hikmah dibaliknya maka janganlah ditambah dengan perkara-perkara lain. Allah adalah sebaik-baik perencana.

"Kamu pasti sempat mengalami masa-masa down ketika menjalankan aktivitasmu yang sangat berat, apa yang membuatmu yakin untuk tetap melanjutkannya?", tanyanya. "Aku yakin apa yang kulakukan ini adalah baik dan Allah akan membalas dan memberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas ini", kata-kata dari seorang teman, yang saya dengar sendiri beberapa waktu lalu

# Renungan nasehat untuk diri sendiri

Alamri

Di pertemuan pertama pelajaran kesenian di SMA, guruku mengajukan pertanyaan yang sempat bikin sekelas diam:
Apakah saya seorang seniman?

Pertanyaan ini rasanya jebakan banget, bisa jadi kita harus menjawab "Iya" atau bisa juga "Tidak". Beberapa detik awal teman-teman cukup yakin untuk menjawab "Iya" tapi beberapa detik kemudian kita sama-sama gak yakin sama jawaban kita.
Bagaimana kamu bisa bilang saya seniman padahal kamu belum pernah lihat karya saya. Seniman itu dikenal dengan karyanya.

Jawabanya setelah beberapa saat sekelas bingung.

Hikmah:
Jadi sebenarnya beliau berharap kita tidak men-judge seseorang berdasarkan jabatan yang sedang dia pegang. Beliau memang guru kesenian, tapi jika kita belum melihat karyanya belum melihat geliatnya di dunia seni, maka jangan terburu-buru untuk memanggilnya dengan sebutan seniman.

Kadang kita ngerasa men-judge seseorang dengan hal yang buruk itu sesuatu yang salah. Tetapi men-judge seseorang dengan hal yang baik, itu juga tidak selamanya benar. Membesar-besarkan pujian yang awalnya hanya dari dugaan sederhana, mengabarkan ke orang lain sehingga semua berpikiran sama, dan akhirnya berekspektasi lebih. Bagaimana seandainya sebuah keputusan terlahir karena dugaan "baik" itu? bisa jadi seorang kepala sekolah akan mengangkat seseorang untuk menjadi guru kesenian, hanya karena kata orang dia seniman.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" - QS. Al-Hujurat:6

Twelve Monkeys

Tiap lagi nonton film atau baca buku yang udah pernah dibaca atau ditonton, keinget kutipan dari film jadul tapi keren ini (Twelve Monkeys):
The movie never changes, it can't change. But every time you see it, it seems different because you're different. You see different things

Hikmah:
Manusia itu selalu bisa berubah, dalam pandangan, hati, atau perbuatan, semua itu tergantung dari lingkungannya dan apa yang dia pelajari. Pilih lingkungan yang baik, dan pelajari apa yang baik-baik, karna biasanya kita nggak sadar kalau kita sudah berubah sampai ada yang negur perubahan kita :( Semoga bisa jadi renungan bersama.

#NgisiBlogYangLamaDitinggal (oh ya, ini karna saya lagi nyoba ngisi blog yang isinya perkara teknis, nyatet dan sambil belajar bahasa inggris di rianadam.web.ugm.ac.id)

Bu Lilik

"Mas Razi kenal Bu Lilik? yang dari Merauke itu?"
"Oh iya tahu, angkatan atas, dia dapat IPK 4.0 terus ditawarin jadi dosen di UGM tapi dia tolak karena pingin jadi dosen di sana (Merauke)"

Begitu kira-kira obrolan santai saya dengan mas-mas S2 di akhir pembicaraan serius. Rasanya maknyes banget. Ketika kita sibuk nyari kuliah di luar negeri atau daftar kerja di kantor ternama, ada seseorang yang punya kesempatan bagus untuk meningkatkan karirnya, tetapi memilih untuk menolak kesempatan dan mengabdi pada masyarakatnya. Saluuut.. Bu!

Hikmah dari Merauke [5]

Kalian adalah programmer-programmer keren dari timur yang pernah aku temui :)
"Bagaimana pendidikan di sana?" Ada satu hal yang cukup berkesan ketika berbicara tentang pendidikan di Merauke, hasil ngobrol dengan Pak Gerzon, Bu Lilik, Pak Sus, dan Pak Jono. Yakni adalah tentang mindset orang merauke tentang pendidikan tentang semangat untuk belajar. (sebelumnya saya perjelas, ini bukan maksud memukul rata, opini ini hanya berdasarkan dari cerita-cerita pengajar di sana)

Semangat belajar adalah suatu yang sangat berharga di sana. Karenanya di kampus, aturan dibuat tidak sekeras dan seketat pada umumnya di Jawa. Ada cerita mahasiswa yang bisa tidak masuk 2-3 minggu karena menemani orang tuanya berburu. Dan juga jangan kaget jika banyak mahasiswa yang memiliki usia yang bahkan lebih tua dari pengajarnya. Ya itu karena semangat adalah sesuatu yang berharga, ketika mereka memiliki semangat itu, maka ada baiknya untuk tetap dikobarkan tanpa mengecilkan. Bayangkan saja ketika kau memiliki semangat untuk belajar, tapi keluarga, masyarakat, bahkan pemerintah sendiri masih banyak yang mempertanyakan kenapa harus belajar begitu tinggi? kalau bukan pihak kampus yang terus menyemangati lalu siapa lagi?

Dan di kampus ini, kalian bisa merasakan bahwa aura belajar sangatlah tinggi. kampus berhasil memfasilitasi orang-orang yang memliliki semangat untuk belajar, sehingga bisa terasa ketika workshop kemarin mereka tidak terlihat ogah-ogahan untuk belajar, bahkan mereka relatif cukup aktif mengikuti alur kelas. Jangan mengira ilmu mereka tertinggal jauh, mereka tidak berbeda jauh dengan mahasiswa di Jawa, bahkan beberapa saya rasa sangat cerdas.

Ada seorang mahasiswa yang cukup berkesan bernama Simson, perawakannya seperti bagaimana bayangan orang-orang ketika ditanya tentang masyarakat Papua. Besar, berkulit gelap, berambut keriting, berasal dari desa yang cukup jauh dari kampus, dan ketika bersalaman kau bisa merasakan sudah seberapa banyak pengalaman kehidupan telah melalui tangannya. Tapi yang bisa dicontoh dari dia adalah bagaimana semangat dia untuk belajar pemrograman. Dia benar-benar pantang menyerah! melihat dia ngoding lebih mirip melihat dia sedang berusaha memburu "masalah" dengan bersenjata "program" yang dia buat. Tidak menyerah. Dengan semangat yang besar itulah ilmu bisa datang kedirinya.

Semoga semangat belajar itu terus terjaga di hati mereka, semangat untuk memajukan Indonesia dari timur. Kalian adalah programmer-programmer keren dari timur yang pernah aku temui :)

Itulah Indonesia! beda dengan Singapore yang hanya secuil dengan sedikit suku, di sini permasalahannya itu, Indonesia itu luas dan beragam suku dan pemikirannya pun beda-beda. Itu jadi tantangan untuk memajukan Indonesia - Pak Anif

Hikmah dari Merauke [4]


Diambil dari jendela kamar hotel
"Loh Pak, di sini ini atap rumahnya pakai seng semua ya? apa tidak panas?", salah satu pertanyaan yang muncul dari kami setelah memperhatikan  ciri rumah yang unik-unik. Selain beratap seng, rumah di merauke bentuknya biasanya hanya kotak biasa tanpa bentuk yang aneh-aneh, punya halaman luas yang mengitari rumah, dan pagar yang terbuat dari seng atau kawat berduri.

"Ya di sini genteng mahal, mampunya hanya beli seng, ya seng aja yang dipakai untuk atap rumah. Kalau panas, ya jelas panas", Jawab Pak Gerzon.

Sekilas langsung kebayang dengan isu beberapa waktu lalu yang bensin di sini harganya sempat mahal sekali. Juga jangan tanya harga barang-barang lainnya. Di sini belum ada Alfamart atau Indomaret. KFC saja baru ada satu yang buka beberapa waktu lalu. Kadang, kita ngerasa Indonesia itu sudah cukup maju di Jawa, tapi setelah di sini, kita bener-bener bisa ngerasain yang namanya gap dalam ekonomi terasa sekali.

Di hari-hari terakhir saya sempat bertanya ke salah satu dosen di Universitas Musamus, "Bu, Ibu kan pernah tinggal di Jawa, kalau menurut Ibu, perbandingan Gaji dan pengeluaran di Jawa sama di Merauke sama tidak bu?".. "Beda, jauhlah, ini saya masih baru-baru ini gaji saya naik mas, dulu gaji saya masih tidak banyak-banyak sekali. Teman saya juga masih banyak yang gajinya rendah. Padahal biaya hidup di sini lumayan mahal toh?"

*catatan: semua dialog ditulis secara kira-kira berdasar ingatan saya

Hikmah dari Merauke [3]

Gereja Katolik, Gereja Protestan, difoto dari tempat wudhu Masjid
Hari Selasa, hari pertama kalinya ke Universitas Musamus. Kesan pertamanya: Universitas ini guede banget. Cuma masih banyak tanah yang kosong dan gedung yang sedang di bangun. Yakinlah, 5-10 tahun lagi Universitas ini bisa kelihatan keren banget.

Salah satunya dari beberapa bangunan yang sedang dibangung, yang menarik adalah tiga gedung yang berada di sisi Universitas ini. Ketiga gedung tersebut adalah Gereja Katolik, Gereja Protestan, dan Masjid yang dibangun berdekatan. Untuk kedua Gerejanya belum bisa ditempati namun untuk lantai 1 Masjid sudah bisa digunakan untuk Sholat berjama'ah. Rasanya adem banget, setelah di Jawa diributkan dengan kehebohan pejabat yang melecehkan Agama, dan sikap beberapa oknum yang malah menginjak-injak roti, di sini bisa dapet cerita lain tentang bagaimana itu toleransi beragama :)

--Catatan seputar toleransi beragama--
Sedikit intermezzo tentang sikapku dalam makna toleransi beragama. Toleransi beragama artinya saling menghormati antar-agama, tanpa sampai menyalahi syariat agama itu sendiri.

Dalam Islam, berinteraksi, bekerja sama dengan non-muslim, adalah contoh toleransi beragama. Tidak mengganggu ketika mereka ibadah juga salah satunya. Namun, hati-hati, dalam Islam "mengucapkan selamat" tidak dihitung toleransi karena sudah menyalahi syariat agama. Hal ini sudah otonomi agama Islam, urusan agama lain mempersilahkan mengucapkan selamat ke perayaan agama lain itu kembali ke otonomi agamayna sendiri,

Mudahnya, bayangin kenapa di Islam harus sholat 5 kali sehari sedangkan di Kristen hanya 1 kali seminggu, Kita tidak perlu mempertanyakan bukan? atau malah mengatakan "Kita seharusnya toleransi dengan mengurangi ibadah kita"(?)

Bacaan lain seputar toleransi:
https://buletin.muslim.or.id/aqidah/toleransi-terhadap-non-muslim-dan-batasannya

Sahabat